love_dokter

Dokter Hari Ini, Terjerat Dilema Cinta Untuk Aku, Dia dan Mereka

Oleh: Dewa Ayu Sri Agung Suandewi

Dokter…sebuah panggilan untuk sebuah profesi yang katanya paling mulia di dunia. Bagaimana tidak, dokter memiliki kewenangan untuk menyelamatkan nyawa pasien-pasiennya. Kembali ke masa sekolah dasar, ada satu pertanyaan yang tidak pernah absen untuk ditanyakan oleh Ibu Guru kita. “Kalau sudah besar mau jadi apa?” Dan jawaban majoritas adalah “Dokter Bu Guru!”. Hampir selalu begitu, dimanapun. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun sebagian dari orang tua tiap anak Indonesia telah ‘mencekoki’ putra-putri mereka untuk meniti karir sebagai seorang dokter. Alasanya simpel, dokter adalah pekerjaan mulia. Dengan menjadi dokter masa depan akan menjadi cerah, mapan dan terpandang. Akibatnya setiap tahun kelulusan, Fakultas Kedokteran terutama jurusan pendidikan dokter tidak pernah sepi peminat. Selain itu dokternya pun tidak kalah tenar, bak seorang idola banyak pihak yang ingin mencari perhatian dokter. Sehingga seorang dokter pun dituntut harus bisa membagi ‘cintanya’ secara adil kepada aku, dia dan mereka.

Untuk Dia, Pasien

Begitu masyarakat Indonesia sangat mengidam-idamkan profesi dokter, sehingga menaruh ekspektasi yang sangat tinggi terhadap kinerja dokter itu sendiri. Dengan mindset yang telah terpatri sedemikian rupa, masyarakat menjadi lebih sensitive untuk menilai kinerja dokter. Kehidupan seorang dokter itu sempurna, maka mereka juga harus melaksanakan kewajibannya dengan sempurna. Sedikit saja kesalahan, akan ada nyawa dan karier yang dipertaruhkan.

Bukan rahasia jika masyarakat yang pernah menjadi seorang pasien kini semakin terang-terangan mengkritik pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter, entah itu dalam skala kecil seperti obrolan antar teman atau dalam sebuah forum di dunia maya. Rata-rata pasien, pasti mengkritik pelayanan dokter yang dianggapnya kurang professional dan pelit ilmu. Bagaimana tidak dalam waktu singkat, saat pasien baru mengutarakan satu keluhan atas sakit yang dirasakan dokter telah menyatakan pasien tersebut mengidap suatu penyakit dengan bahasa yang aneh, bahasa kedokteran yang keren bagi rekan sejawat tetapi menjadi bahasa ‘alien’ bagi si pasien. Saat si pasien ingin menanyakan mengenai penyakitnya, dokter telah memberikan kertas resep yang harus ditebus. Kemudian pasien ingin bertanya lagi mengenai pantangan apa yang harus ia hindari agar penyakitnya tidak bertambah parah, sang dokter hanya menjawab sekedarnya sembari membalas pesan di smartphone canggih miliknya. Akhirnya si pasien pun pergi meninggalkan ruangan dengan rasa kesal.

Keadaan tersebut sangat sering terjadi dalam praktik dokter pasien. Salah satu kelemahan pelayanan dokter di Indonesia adalah kurangnya KIE atau Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada para pasiennya. Sangat disayangkan, padahal pemberian KIE yang baik dapat menyalurkan rasa empati seorang dokter kepada pasiennya sehingga akan meningkatkan rasa kepercayaan seorang pasien terhadap dokternya. Pemberian KIE yang baik juga dapat menekan penyebaran penyakit di masyarakat karena telah adanya suatu kesadaran dari diri masyarakat mengenai penyakit dan cara pencegahannya.

Kurangnya pemberian KIE kepada pasien yang banyak terjadi dalam praktik dokter pasien telah semakin menyuburkan praktik-praktik pengobatan tradisional yang belum teruji secara klinis efek terapinya. Hal ini terjadi karena praktik-praktik tradisional ini menyediakan „informasi‟ berkaitan dengan sakit yang di derita pasien. Dengan teknik komunikasi yang baik, praktik-praktik ini mampu memunculkan suatu rasa percaya bagi para pasiennya. Hal ini juga didukung dengan kebebasan waktu untuk berkonsultasi dengan para terapisnya. Kepuasaan pun datang kepada para pasien karena merasa dihargai sekalipun pengobatan yang ditawarkan belum tentu menyembuhkan.

Selain itu, tidak jarang kita jumpai banyaknya masyarakat yang rela mengeluarkan nilai rupiah yang lebih tinggi untuk mencari pengobatan ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tren yang semakin meningkat ini cenderung menyiratkan bahwa kemampuan dokter di Indonesia kalah dari negara tetangga. Saya rasa tidak karena cukup banyak mahasiswa kedokteran asing yang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Kedokteran di Indonesia. Lalu dimana masalahnya?

Banyak dokter kini telah melupakan esensi penting dari praktik dokter pasien yaitu patient centered. Dokter sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan harus mampu memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Pelayanan yang baik, salah satunya dapat diberikan melalui suatu KIE yang baik. Tanpa suatu KIE yang baik akan sering terjadi suatu miskomunikasi yang cenderung menimbulkan perkara medis yang menjelaskan maraknya tuntutan kasus malpraktek oleh dokter dewasa ini. Pada titik ini maka seorang dokter telah gagal memberikan ‘cinta’ kepada pasiennya.

Untuk Mereka, Pengambil Kebijakan Kesehatan

Dalam menjalankan tugasnya dalam ranah kesehatan, seorang dokter terikat dengan suatu suatu tindakan prosedural atau SOP (Standard Operational Procedure) dan berbagai kebijakan kesehatan lainnya. Selama ini sistem kesehatan yang dianut dianut di Indonesia adalah Out of Pocket dimana pasien perlu mengeluarkan biaya sendiri untuk menjamin kesehatan mereka. Dengan sistem seperti ini dokter memiliki hak untuk menentukan biaya pengobatan sesuai dengan berat ringannya penyakit pasien. Tak jarang, banyak yang mengatakan sistem ini lebih banyak menguntungkan dokter.

Namun tertanggal 1 Januari 2014, pemerintah telah mengganti sistem kesehatan kita dengan membentuk suatu JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional dibawah pengelolaan BPJS. Dalam JKN, biaya kesehatan akan ditanggung dalam suatu asuransi yang idealnya harus diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dengan adanya program JKN ini, pasien tidak lagi mengeluarkan biaya untuk ke dokter, dan sebagai gantinya, pemerintah akan membayarkan gaji dokter setiap bulannya. Nyatanya program ini belum berjalan dengan baik dan merata di Indonesia dan membuat para dokter was-was akan nasibnya. Karena bukan rahasia pendapatan dokter dengan sistem OOP jauh lebih besar dari pada gaji yang diberikan pemerintah untuk menjalankan sistem JKN. Dan urusan administrasi yang masih saja mengalami kekurangan membuat banyak pihak sangsi apakah program ini akan berjalan dengan baik. Masih banyak sekali pro kontra terhadap kebijakan pemerintah yang selalu terasa belum matur dengan kondisi di lapangan. Namun untuk tetap memberikan ‘cinta’ kepada pemerintah selaku pembuat sistem kesehatan, mengharuskan dokter untuk tetap tunduk mengikuti sistem walaupun harus bekerja dalam suatu kegalauan.

Untuk Aku, Diri Sendiri

Saat memutuskan untuk menjadi dokter, secara tidak langsung seseorang telah berkomitmen untuk selalu online on life, selalu tersedia 24 jam, karena orang sakit tidak pernah absen dan selalu ada setiap waktu. Namun, terlepas dari berbagai urusan profesi, seorang dokter tetaplah memerlukan ruang pribadi. Baik untuk diri sendiri maupun dengan keluarga. Hampir bekerja penuh selama seminggu akan merampas quality time bersama keluarga dan menimbulkan suatu rasa kejenuhan yang akan pasti akan berefek salam performa sehari-hari. Hal ini juga ditambah dengan tingkat tekanan atau stess saat menghadapi kasus-kasus emergency di Rumah Sakit. Terkadang, ada beberapa dokter yang membawa masalah pribadinya hingga ke ranah kerjanya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sedikitnya ruang gerak untuk sekedar mengeluarkan beban pikiran, namun kembali lagi dengan kata profesionalisme medis pembenaran itu seolah adalah sebuah kesalahan. Akibatnya dokter harus memilih antara salah satu diantara kehidupan pribadi ataupun pekerjaan. Dan ‘cinta’ kepada aku pun harus terpaksa diselingkuhi.

Dilema Dokter Masa Kini

Dokter masa kini sedang megalami sebuah dilema karena ‘cinta’ yang dimiliki harus dibagi antara aku, dia dan mereka. Sebuah dilema inilah yang secara tidak langsung membentuk karakter dokter masa kini. Lalu bagaimakah agar seorang dokter dapat keluar dari dilemanya? Apakah dokter harus menyerahkan seluruh ‘cinta’nya sepehuhnya bahkan hingga tidak tersisa? Jawaban pertanyaan tersebut marilah kita pikirkan bersama demi kemajuan dokter di Indonesia.

CATATAN: Tulisan ini adalah Juara 1 dalam Lomba Esai dalam rangka HUT IDI ke-64 (2014)

Leave a Comment