Albert_Schweitzer

Dokter PTT di Daerah Terpencil, “Albert Schweitzer” Indonesia

Oleh : I Komang Wisnu Budi Wijaya

Siapakah Sosok Albert Schweitzer itu?

Albert Schweitzer adalah seorang pemusik, pendeta sekaligus dokter yang berhati mulia dan cinta kasih. Beliau dilahirkan di Alsace, Prancis pada tanggal 14 Januari 1875. Ketika dia berusia 18 tahun dia menjalankan studi perguruan tinggi dengan memilih jurusan ilmu filsafat dan teologi sekaligus belajar akordion dengan ahli akordion yang bernama Charles. Setelah lulus dari perguruan tinggi, Albert ditawarkan untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi tempat beliau melakukan studi. Namun tawaran itu ditolak oleh Albert, karena Albert mempunyai pemikiran bahwa jika dirinya menjadi dosen, maka dia tentu harus meninggalkan pekerjaannya yang mulia yaitu sebagai pendeta. Maka dari itu Albert lebih memilih menjadi pendeta. Prinsip hidup yang senantiasa dipegang teguh olehnya adalah “Sebelum saya berusia 30 tahun yang harus saya lakukan adalah menuntut ilmu dan bermain musik, setelah usia 30 tahun saya harus mengabdikan diri saya kepada sesama yang membutuhkan”.

Pada tahun 1904, Albert membaca sebuah laporan pada bulletin yang membuat hatinya tergugah. Laporan dalam bulletin itu menceritakan kondisi para penduduk di benua Afrika yang mengalami keterbelakangan, penyakit yang bertebaran dimana-mana dan fasilitas kesehatan yang terbatas. Setelah membaca laporan itu, Albert memutuskan pergi ke Afrika untuk mengabdikan dirinya kepada para penduduk disana. Sebelum pergi ke Afrika, beliau melakukan studi di Perguruan Tinggi bidang kedokteran. Niat Albert untuk pergi ke Afrika tidak mendapat persetujuan dari sahabat dan keluarganya. Namun hal itu tidak mengubah tekadnya yang sudah bulat untuk pergi ke Afrika. Pada usia 36 tahun, Albert lulus dari perguruan tinggi dan mendapat gelar dokter. Setelah berhasil mengumpulkan dana dan menikah dengan wanita yang bernama Helen, Albert akhirnya berangkat ke Afrika, tepatnya tahun 1912.

Di Afrika, tepatnya di Lambarene, Albert bersama istrinya mendirikan sebuah rumah sakit yang bertujuan memberikan pertolongan dan pengobatan kepada penduduk setempat secara gratis. Obat-obatan dan alat kesehatan lainnya, itu dibawa oleh Albert dari Eropa. Mengabdikan diri kepada penduduk Afrika bukanlah hal yang mudah. Kondisi pasien yang sangat banyak, fasilitas kesehatan yang terbatas, berhadapan dengan penduduk Afrika yang masih primitf dan berada di bawah ancaman peperangan adalah beberapa tantangan yang dialami Albert dalam mengabdikan diri sebagai dokter di benua Afrika. Bahkan, ketika Perang Dunia I, Albert pernah dipenjara oleh tentara Prancis di benua Afrika, walau akhirnya beliau dibebaskan kembali.

Pada tahun 1928, Albert Schweitzer memperoleh penghargaan Goethe. Namun uang dari penghargaan itu tidak dia gunakan untuk kebutuhan pribadi, melainkan untuk membeli obat dan alat kesehatan lainnya untuk mengobati para penduduk di benua Afrika. Penghargaan juga kembali diterima oleh Albert Schweitzer pada tahun 1952, yaitu berupa Nobel Perdamaian., Albert Schweitzer meninggal dunia di Afrika pada tanggal 4 September 1965.

Hal yang harus kita kagumi dari Albert Schweitzer adalah bukan karena dia peraih penghargaan Goethe dan Nobel Perdamaian, namun bagaimana pengorbanan dan pengabdian beliau terhadap penduduk di benua Afrika. Beliau kurang lebih selama 52 tahun atau lebih dari setengah usianya, mengabdikan diri sebagai seorang dokter untuk mengobati penduduk di benua Afrika yang notabene saat itu identik dengan keterbelakangan. Beliau tidak mengharapkan uang atau imbalan apapun atas pengabdiannya. Sosok Albert Schweitzer ini pantas untuk diteladani. Sangat jarang kita temukan orang yang mau mengabdikan diri untuk orang lain dalam jangka waktu lama. Terlebih lagi saat ini era krisis dan globalisasi yang membuat orang bersikap cenderung individualis dan materialistis. Oleh karena pengorbanan dan pengabdian Albert Schweitzer kepada penduduk terpencil di Afrika, maka beliau layak diberi julukan sebagai “Pahlawan Kesehatan Daerah Terpencil”.

Dokter PTT dan Jiwa Albert Schweitzer

Sebelumnya perlu dijelaskan tentang apa itu sebenarnya dokter PTT? Dokter PTT (Pegawai Tidak tetap) adalah dokter yang bertugas di daerah terpencil dan daerah sangat terpencil dengan massa kerja 2 tahun. Tujuan pemerintah menempatkan dokter PTT di daerah terpencil dan daerah sangat terpencil adalah untuk memperluas akses kesehatan sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat di daerah terpencil atau sangat terpencil yang notabene sarana dan prasarana kesehatannya masih terbatas.

Menjadi seorang dokter PTT di daerah terpencil dan daerah sangat terpencil bukanlah hal yang mudah. Banyak kendala yang mereka alami. Kendala yang pertama adalah hidup dalam keterbatasan fasilitas. Kita tahu daerah terpencil dan sangat terpencil umumnya terbatas dalam hal fasilitas hidup, seperti saluran listrik, air bersih, sarana komunikasi dan transportasi dan masih banyak lagi kendala lainnya. Selain itu dokter PTT juga dituntut mampu mengubah pola pikir masyarakat terpencil yang cenderung primitive dan percaya mitos tentang kesehatan. Misalnya, masih banyak masyarakat di desa yang terpencil percaya bahwa penyakit yang diderita oleh seseorang itu karena pengaruh makhluk halus atau ulah dukun santet. Padahal tidak semua penyakit terjadi karena hal itu, melainkan terjadi karena gangguan kesehatan. Selain itu, jika dokter PTT yang bertugas di daerah terpencil dan daerah itu rawan konflik seperti Papua tentu akan beresiko tinggi untuk meregang nyawa. Kita patut berduka cita atas meninggalnya seorang dokter PTT yang bernama dr. Lidya Olivia Pieter, yang meninggal dunia pada tahun 2009 lalu di tempat dia mengabdi di daerah Seram, Maluku karena terkena peluru nyasar seorang oknum tentara. Namun, walaupun harus menghadapi kendala dan resiko tersebut, para dokter PTT ini tetap dituntut untuk menunaikan kewajibannya yaitu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terpencil.

Dengan melihat pengorbanan seorang dokter PTT di daerah terpencil maka sudah selayaknya mereka layak dijuluki “Albert Schweitzer Indonesia” karena upaya serta pengorbanan yang dilakukan oleh almarhum Albert Schweitzer dalam mengabdi kepada masyarakat benua Afrika hampir sama dengan yang dilakukan oleh dokter PTT di daerah terpencil. Mereka pun juga layak mendapat julukan “Pahlawan Kesehatan Daerah Terpencil”.

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana perhatian pemerintah terhadap “Pahlawan Kesehatan Daerah Terpencil” ini? Jawabannya, belum terlalu memperhatikan. Buktinya, bisa kita lihat pada sebuah kabupaten di Pulau ulawesi . Para dokter PTT yang bertugas disana tahun 2007, kurang mendapat perhatian oleh pemerintah setempat. Terutama masalah gaji dan insentif. Pemerintah setempat menjanjikan insentif sebesar Rp 2.500.000,00/bulan kepada mereka. Namun kenyataannya, pemerintah setempat tidak terlalu serius mengurus insentif yang notabene adalah hak mereka. Akhirnya mereka mengurus sendiri gaji dan insentif tersebut dengan mekanisme yang cukup berbelit-belit. Sungguh malang nasib mereka. Mereka yang telah mengorbankan tenaga dan materi demi masyarakat disana, justru tidak mendapat perhatian dan ucapan terima kasih.

Apa yang Mesti Dilakukan Pemerintah?

Sekarang sudah saatnya pemerintah memperhatikan nasib para dokter PTT yang bertugas di daerah terpencil itu. Karena tak bisa dipungkiri, mereka adalah “ujung tombak” dalam memberikan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Perhatian yang bisa diberikan pemerintah adalah dengan memberikan pasokan obat dan alat kesehatan kepada dokter PTT ini secara gratis, sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat terpencil bisa lebih maksimal. Kemudian, pemerintah juga harus memberikan gaji yang layak kepada dokter PTT yang bertugas di daerah terpencil. Selain itu, pemerintah harus memberikan jaminan atau perlindungan keamanan kepada dokter PTT yang bertugas di daerah terpencil namun rawan konflik. Terakhir, dalam rangka meningkatkan motivasi kerja para dokter PTT tersebut, pemerintah juga perlu memberikan penghargaan kepada dokter PTT yang sukses menjalankan tugasnya misalnya berupa jaminan akan diangkat sebagai dokter PNS setelah bertugas. Tak hanya itu, pemerintah juga perlu melakukan upaya jangka panjang. Upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pembangunan bidang kesehatan di daerah-daerah terpencil, sehingga seluruh masyarakat di pelosok Indonesia ini bisa mendapat pelayanan kesehatan yang optimal.

Kita berharap dengan besarnya perhatian pemerintah yang diberikan kepada dokter PTT di daerah terpencil, maka para dokter PTT ini bisa bekerja lebih maksimal sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih optimal. Terima kasih Dokter PTT! Kalian adalah “Albert Scweitzer Indonesia”! Jasa kalian begitu besar untuk kesehatan masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

  • Anonim. 2009. Seorang Dokter PTT Tertembak. Diakses dari
    http://www.ilunifk83.com/t198-dokter-ptt-tertembak tanggal 10 November 2014
  • Efiyanti, C. Nasib Dokter PTT di Wakatobi. Diakses dari
    http://suarapembaca.detik.com/read/2007/12/19/141448/869385/283/nasib-dokterptt-di-wakatobi/ tanggal 10 November 2014.
  • Gustiawati, I. 2013. Masa Tugas Dokter PTT Diperpanjang dari 1 Tahun Menjadi
    2 Tahun. Diakses dari http://health.liputan6.com/read/585987/masa-tugas-dokterptt-diperpanjang-dari-1-tahun-jadi-2-tahun tanggal 10 November 2014.
  • Foto: Can a Gabonese director cure the Albert Schweitzer hospital? http://www.bbc.com/news/world-africa-18120920

 

CATATAN: Tulisan ini adalah Juara 3 dalam Lomba Esai dalam rangka HUT IDI ke-64 (2014)

Leave a Comment