idid-pic

Menilik Kembali Peran IDI

Senin 29 September pukul 17.58 WITA, saya mendapat telpon dari sejawat dr. Deddy Andaka, M.Biomed, Sp.S memberitahu bahwa saat ini website IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Denpasar sudah terbentuk. Beliau dengan antusias mengajak saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan IDI tersebut untuk menulis. “Ya tulisan ringan sajalah, Pak”, Beliau merayu. Saya tidak tahu kenapa beliau merayu saya. Saat itu saya sedang memandangi layar Macbook Air yang kemana-mana selalu saya jinjing mengerjakan proposal untuk penelitian akhir program pendidikan Konsultan Ginjal Hipertensi di RSUP Sanglah Denpasar. Segera saya membuka folder baru, “Menilik Kembali Peran IDI”.

Selamat!

Selamat atas terbentuknya website IDI Denpasar. Saya yakin bila melihat semangatnya dan siapa tokoh-tokoh di balik lahirnya website ini, maka bukan tidak mungkin IDI Denpasar bisa berkontribusi pada tingkat nasional dengan kiprahnya kelak. Siapa yang tidak mengenal Bali? Mudah-mudahan, status Bali ikut membesarkan peran IDI di tanah air.

Barangkali hampir semua orang Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan SMP-SMA mengenal dalam pelajaran sejarah tokoh-tokoh seperti dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudiro Husodo, dr. Sun Yat Sen (Cina), dr. Jose Rizal (Filipina). Mereka adalah tokoh-tokoh kemanusiaan yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya masing-masing. Entah motivasi apa yang menggerakkan mereka waktu itu. Namun patut diduga, mereka tergerak untuk membela hak dasar manusia yaitu kemerdekaan. Hal itu terjadi karena mereka berprofesi sebagai dokter, yang sehari-hari bergelut dengan masalah kemanusiaan yaitu hak hidup manusia.

Sepertinya mudah ditebak! Membaca judul di atas mungkin pembaca menduga sesuatu yang usang dengan tema “Apa peran IDI (baca: dokter Indonesia) bagi bangsa Indonesia saat ini?”. Apa boleh buat, topik itulah yang terbersit saat saya memutuskan apa yang akan saya tulis. Tetapi saya tahu, topik itu, membosankan, menggurui, bahkan mungkin pembaca akan mengatakan saya sok idealis. Jangan khawatir, saya tidak akan menulis itu. Topik itu terlalu besar, jauh dari keseharian dokter dan cenderung abstrak pada jaman seperti ini. Lebih menarik topik peran IDI bagi anggotanya.

Peran ke dalam dan ke luar

Menurut saya peran IDI ada dua bagian besar. Pertama peran bagi anggotanya (ke dalam) dan kedua bagi masyarakat (ke luar). IDI adalah wadah organisasi profesi dokter Indonesia. Organisasi profesi ini tentu organisasi non profit. Sebenarnya IDI merupakan organisasi sarikat pekerja (baca profesi) seperti halnya serikat pekerja lain. Namun demikian mengingat profesi dokter ini sangat penting bagi pelayanan kesehatan yang menyangkut hak dasar hidup, maka IDI (baca: dokter) mendapat tempat khusus di mata masyarakat bahkan dalam hal tertentu profesi ini mendapat manfaat (baca: insentif) tertentu secara sosial seperti penghormatan yang tinggi.

Harapan publik terhadap dokter sangat tinggi, sehingga isu-isu tentang kesehatan apapun masalahnya hampir selalu dikaitkan dengan IDI, mulai dari masalah praktik kedokteran, penyakit, obat-obatan, masalah pembiayaan kesehatan, dan tidak ketinggalan masalah pendidikan dokter.

Tetapi bagaimana dengan peran IDI ke dalam? Kepada anggota-anggotanya sendiri?

Sebagai anggota IDI, saya tidak begitu memahami apa hak dan kewajiban sebagai anggota IDI. Pengalaman saya adalah saat akan mengajukan surat ijin praktek (SIP) dokter maka saya membutuhkan surat rekomendasi IDI, dan untuk mendapatkan surat rekomendasi tersebut saya harus menjadi anggota IDI setempat dan harus membayar iuran untuk menjadi anggota IDI. Selanjutnya saya akan tercatat sebagia anggota IDI di wilayah tersebut dengan nomer pokok anggota (NPA) IDI.

IDI memiliki jumlah anggota yang sangat besar, seratusan ribu lebih anggota (yang pernah saya dengar). Tentu organisasi yang besar sebenarnya memiliki kekuatan yang besar pula bila organisasi ini solid. Terbukti, saat kasus yang diduga malapraktik di Manado tahun lalu, solidaritas IDI mempunyai dampak luar biasa.

IDI Denpasar

IDI Denpasar bisa me-redifine apa, siapa dan bagaimana seluk beluk keberadaan organisasi IDI Denpasar, sehingga para anggotanya bisa lebih jauh memahami dan ikut merasa memiliki. Perlu juga informasi tentang sejarah keanggotaan, pengurus sejak pertama didirkan sampai saat ini lengkap dengan biodata, termasuk informasi pengurus PB IDI Pusat.

Begitu juga perkembangan jumlah anggota dari awal hingga hari ini termasuk seluk beluk organisasi seperti AD/ART. Kegiatan-kegiatan IDI atau kegiatan para dokter baik kontribusi ke dalam atau ke luar IDI. Tersedianya data base setiap anggota IDI lengkap dengan email/nomer hp sebagai sarana komunikasi dan sosialisasi berbagai hal tentang organisasi dan kegiatan atau hal-hal yang terkait dengan IDI. Misalnya masalah medikolegal dan etik, masalah profesionalisme, terkait dengan UU Nakes, BPJS dll. Siapa yang melakukan pembinaan dan pengembangan hal-hal tersebut bila bukan IDI sendri?

Redefining peran IDI berarti sama dengan empowering IDI sebagai organisasi profesi. Dengan demikian dokter-dokter sebagai anggota IDI akan semakin merasakan kehadiran organisasi ini bagi mereka.

Masalah utama dalam menjalankan kepengurusan IDI adalah siapa yang mau bekerja untuk hal-hal tersebut? Sedangkan kepengurusan IDI besifat sukarela, para pengurusnya tidak dibayar. Menjadi pengurus IDI adalah pekerjaan berat, karena bersifat volunteer dan tidak semua orang bersedia dipilih menjadi pengurus. Sebagian besar inginnya jadi anggota saja. Tetapi bila ada kekurangan dari kepengurusannya, maka IDI akan mendapat sorotan.

Lalu apa peran anggota dalam mengembangkan IDI? Bukankah organisasi IDI itu milik bersama para dokter dan semua dokter berkepentingan akan keberadaanya? Sadarkah para dokter, bahwa tanpa IDI kita tidak bisa cari makan?

IDI pusat

IDI sebenarnya merupakan sebuah organisasi yang memiliki kekuatan besar di negeri ini. Mempunyai potensi untuk membangun bangsa khususnya dalam bidang kesehatan. Sudah seharusnya IDI, khususnya PB IDI bersifat pro aktif terhadap upaya-upaya peningkatan profesionalisme para dokter misalnya dalam penyelenggaraan Uji Kompetensi dokter. Berhubung IDI sebagai organisasi perserikatan profesi tidak mempunyai kapasitas untuk menguji kompetensi dokter maka bisa mendukung langkah-langkah uji kompetensi dokter yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang mendidik dokter di bawah Departemen Pendidikan nasional. IDI dapat memberikan masukkan beberapa hal yang sebaiknya diujikan pada ujian kompetensi dokter, misalnya menyangkut medikolegal dan etik. Materi yang menyangkut sikap profesioalisme dan behavior seorang dokter.

Kompeten itu berbeda dengan professional. Seorang yang professional adalah seorang yang kompeten tetapi ditambah sikap bagaimana seorang dokter seharusnya bekerja dengan nilai-nilai dasar profesi kedokteran yaitu DO NO HARM. Sebuah prinsip yang dilahirkan oleh salah satu tokoh kedokteran Hipocrates, yang artinya pertama-tama dalam melaksanakan praktek kedokteran, seorang dokter harus tidak boleh merugikan pasien. Dalam bahasa pelayanan medis saat ini lebh dkenal sebagai Patient Safety.

IDI bisa berkontribusi dalam melindungi anggotanya dari serbuan dokter asing pada era perdagangan bebas, dengan mengoptimalkan sistem ujian dokter nasional yang memiliki ciri-ciri spesifik profesionalisme dokter Indonesia. Karena adanya ujian dokter standar nasional, tidak hanya menjadi acuan saringan dokter Indonesia yang kompeten tetapi juga melindungi profesi dokter Indonesia dari serbuan dokter asing.

Ujian dokter standar nasional tidak sekedar lulus, tetapi berapa nilai yang pantas seorang dokter dianggap lulus? Nilai itu tidak sekedar angka, tetapi memiliki value sosial, yang berdampak pada kepercayaan publik terhadap dokter-dokter Indonesia.

IDI bisa berkontribusi pada nasib para anggotanya. Termasuk dalam hal bagaimana penghargaan profesi dokter dalam standar pelayanan kesehatan secara adil. Karena IDI merupakan suatu organisasi, IDI juga harus transparan dalam menjalankan aktivitas, visi dan misi yang diwakili oleh PB IDI. Dengan demikian anggota, bahkan masyarakat luas bisa lebih memahami apa yang menjadi perjuangan IDI bagi masyarakat Indonesia. Transparansi ini juga menyangkut bila ada penggunaan dana publik (dalam hal ini anggota IDI).

Akhirnya bila IDI mampu menstransformasikan dirinya menjadi sebuah organisasi yang mempunyai andil nyata pada anggotanya, secara otomatis IDI akan berkontribusi pada bangsa ini, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Sekali lagi selamat atas terbentuknya website IDI Denpasar.

Triharnoto

Anggota IDI Cabang Denpasar
NPA: 2736/IDI/DPS
Penulis Buku The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter

2 Comments

  • rai putra / 17 November 2014 at 07:22

    Nice artikel, yg jg cukup menarik mungkin peran dokter dalam mencerdaskan kehidupan bangsa memberikan informasi termasuk info akses layanan kesehatan tp terbentur etika takut dianggap berpromosi. It would be nice if i could know ur opinion bout this dr trihartono… Trims

    Reply
  • Deddy Andaka / 1 November 2014 at 22:57

    Terima kasih kepada dok Tri Harnoto yang sudah berkenan “meninggalkan jejak tulisan” di website IDI Denpasar :)

    Reply

Leave a Comment