Pengendalian Sosial: Mengenal Jenis dan Implementasinya

Pada kesempatan kali ini IdiDenpasar.Id akan memberikan ulasan seputar Jenis Pengendalian Sosial secara global yang perlu temen-temen pahami ya. Pengendalian sosial adalah mekanisme yang digunakan dalam suatu masyarakat untuk mengatur perilaku individu agar sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Jenis pengendalian sosial bervariasi tergantung pada budaya, nilai, dan struktur sosial suatu masyarakat. Dalam tulisan ini, kita akan mengenal beberapa jenis pengendalian sosial beserta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis Pengendalian Sosial Yang Perlu Kalian Ketahui

Pengendalian Sosial

Pengendalian Sosial Formal: Penegakan Aturan melalui Sistem Hukum dan Peraturan Resmi

Pengendalian sosial formal merujuk pada sistem aturan dan peraturan resmi yang ditetapkan oleh lembaga atau otoritas tertentu dalam masyarakat. Jenis pengendalian ini melibatkan proses penegakan hukum dan pemberian sanksi yang diatur secara formal untuk mengatur perilaku individu. Berikut adalah beberapa contoh dan implementasi dari pengendalian sosial formal:

Undang-Undang dan Peraturan: Undang-undang dan peraturan merupakan bentuk pengendalian sosial formal yang paling mendasar. Mereka ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga legislatif lainnya untuk mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari hukum pidana, perdata, tata negara, hingga peraturan lalu lintas.

Sistem Peradilan: Sistem peradilan merupakan bagian integral dari pengendalian sosial formal. Melalui proses peradilan, pelanggar hukum diadili sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam undang-undang dan peraturan yang berlaku. Pengadilan memutuskan sanksi atau konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan oleh individu atau kelompok.

Penegakan Hukum: Penegakan hukum dilakukan oleh aparat kepolisian dan lembaga penegak hukum lainnya untuk menegakkan aturan dan peraturan yang berlaku. Mereka bertugas untuk menyelidiki pelanggaran, menangkap pelaku, dan membawa mereka ke pengadilan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sanksi Sosial: Selain melalui sistem hukum, pengendalian sosial formal juga dapat melibatkan sanksi sosial yang ditetapkan secara resmi oleh lembaga atau organisasi tertentu. Contohnya adalah sanksi yang diberikan oleh lembaga pendidikan atau tempat kerja kepada anggotanya yang melanggar aturan atau norma-norma yang telah ditetapkan.

Pengendalian sosial formal menjadi instrumen utama dalam menjaga keteraturan dan keamanan dalam masyarakat. Melalui sistem hukum dan peraturan resmi, masyarakat dapat menegakkan norma-norma sosial yang dianggap penting untuk dipatuhi oleh seluruh anggotanya. Oleh karena itu, pemahaman akan pengendalian sosial formal penting dalam memahami struktur sosial dan sistem hukum dalam suatu masyarakat.

Pengendalian Sosial Informal: Regulasi Perilaku melalui Interaksi Sosial

Pengendalian sosial informal merujuk pada proses regulasi perilaku individu yang terjadi melalui interaksi sosial antarindividu dalam masyarakat. Jenis pengendalian ini tidak melibatkan aturan atau sanksi yang secara resmi ditetapkan oleh lembaga atau otoritas tertentu, namun lebih bergantung pada norma-norma, nilai-nilai, dan ekspektasi yang diinternalisasi oleh anggota masyarakat. Berikut adalah beberapa contoh dan implementasi dari pengendalian sosial informal:

Tekanan Sosial: Tekanan sosial merupakan salah satu bentuk pengendalian sosial informal yang kuat. Individu cenderung menyesuaikan perilaku mereka dengan harapan dan norma-norma yang diberlakukan oleh kelompok atau masyarakat tempat mereka tinggal. Tekanan sosial dapat berupa pandangan, pendapat, atau norma yang diinternalisasi oleh individu melalui interaksi sosial sehari-hari.

Contoh dan Model Perilaku: Contoh dan model perilaku dari anggota masyarakat lainnya juga mempengaruhi perilaku individu. Individu cenderung meniru atau mengadopsi perilaku yang dianggap sesuai atau dihargai oleh masyarakat sekitar. Dengan melihat contoh positif dari orang lain, individu menjadi lebih cenderung untuk mengikuti norma-norma sosial yang berlaku.

Penerimaan Sosial: Penerimaan sosial atau dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas juga memainkan peran dalam pengendalian sosial informal. Individu yang mendapatkan penerimaan sosial cenderung lebih termotivasi untuk mematuhi norma-norma sosial dan mendapatkan validasi dari lingkungan sekitarnya.

Penolakan atau Pengucilan: Di sisi lain, ancaman akan penolakan atau pengucilan dari masyarakat juga dapat menjadi bentuk pengendalian sosial informal. Individu yang melanggar norma-norma sosial atau perilaku yang tidak diterima oleh masyarakat bisa mengalami isolasi sosial atau penolakan dari lingkungan sekitarnya.

Pengendalian sosial informal berperan penting dalam mempertahankan stabilitas sosial dan kohesi dalam masyarakat. Meskipun tidak bersifat formal, interaksi sosial sehari-hari dan dinamika hubungan antarindividu memainkan peran krusial dalam membentuk dan mempertahankan norma-norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, pemahaman akan pengendalian sosial informal penting dalam menganalisis perilaku dan dinamika sosial dalam masyarakat.

Pengendalian Sosial Primer: Fondasi Pembentukan Perilaku Berdasarkan Norma Sosial

Pengendalian sosial primer merujuk pada proses pembentukan perilaku individu yang didasarkan pada norma-norma sosial dalam lingkungan sosial primer seperti keluarga, teman, dan komunitas lokal. Jenis pengendalian ini merupakan tahap awal dalam sosialisasi individu dan memberikan dasar yang kuat dalam memahami dan menginternalisasi norma-norma sosial. Berikut adalah beberapa contoh dan implementasi dari pengendalian sosial primer:

Keluarga: Keluarga merupakan lingkungan sosial primer yang paling berpengaruh dalam pembentukan perilaku individu. Melalui interaksi dengan anggota keluarga, individu belajar mengenai norma-norma, nilai-nilai, dan aturan yang berlaku dalam keluarga tersebut. Orang tua sebagai figur otoritas memberikan contoh dan arahan kepada anak-anak mengenai perilaku yang diharapkan dalam masyarakat.

Teman Sebaya: Teman sebaya juga memainkan peran penting dalam pengendalian sosial primer. Melalui interaksi dengan teman sebaya, individu belajar tentang norma-norma sosial yang berlaku di lingkungan sekitarnya. Teman sebaya dapat memberikan dukungan, pujian, atau bahkan kritik yang memengaruhi perilaku dan sikap individu.

Komunitas Lokal: Komunitas lokal seperti desa atau lingkungan tempat tinggal juga berperan dalam pengendalian sosial primer. Melalui tradisi, adat istiadat, dan norma-norma yang berlaku dalam komunitas tersebut, individu belajar tentang bagaimana berinteraksi dengan sesama anggota komunitas. Partisipasi dalam kegiatan komunitas juga memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial.

Agama dan Kepercayaan: Agama dan kepercayaan juga memiliki peran dalam pengendalian sosial primer. Melalui ajaran agama dan kepercayaan, individu diberikan pedoman mengenai perilaku yang dianggap baik dan buruk dalam masyarakat. Ketaatan terhadap ajaran agama juga dapat memengaruhi norma-norma sosial yang dipatuhi oleh individu.

Pengendalian sosial primer membentuk dasar yang kokoh dalam pembentukan perilaku individu sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Interaksi dengan lingkungan sosial primer ini memainkan peran krusial dalam membentuk identitas, nilai-nilai, dan sikap individu dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman akan pengendalian sosial primer penting dalam upaya memahami dinamika sosial dan budaya dalam masyarakat.

Pengendalian Sosial Sekunder: Intervensi Masyarakat dalam Mengatur Perilaku

Pengendalian sosial sekunder merupakan upaya intervensi yang dilakukan oleh berbagai lembaga dan struktur sosial di dalam masyarakat untuk mengatur perilaku individu. Jenis pengendalian ini berperan sebagai pendukung bagi pengendalian sosial primer yang terjadi dalam lingkungan sosial primer seperti keluarga dan teman. Berikut adalah beberapa contoh dan implementasi dari pengendalian sosial sekunder:

Sekolah: Sekolah menjadi salah satu lembaga yang memiliki peran penting dalam pengendalian sosial sekunder. Melalui pendidikan formal, sekolah mengajarkan norma-norma sosial, nilai-nilai, dan perilaku yang diharapkan dari individu. Guru dan staf sekolah juga turut berperan dalam memberikan arahan, dorongan, atau koreksi terhadap perilaku siswa yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial.

Tempat Kerja: Lingkungan kerja juga memiliki peran dalam pengendalian sosial sekunder. Aturan, kebijakan, dan budaya perusahaan mempengaruhi perilaku karyawan dalam bekerja. Selain itu, manajer dan atasan juga berperan dalam memberikan arahan, pujian, atau sanksi terhadap perilaku karyawan yang memengaruhi kinerja dan suasana kerja.

Media Massa: Media massa memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat. Melalui berita, program televisi, dan konten online, media massa dapat menyampaikan pesan-pesan yang memperkuat norma-norma sosial atau mengkritik perilaku yang dianggap melanggar norma tersebut.

Organisasi Sosial dan Keagamaan: Organisasi sosial dan keagamaan juga turut berperan dalam pengendalian sosial sekunder. Mereka menyediakan wadah bagi individu untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkuat norma-norma sosial dan nilai-nilai keagamaan. Selain itu, anggota organisasi ini juga saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain untuk menjaga perilaku sesuai dengan ajaran yang dianut.

Pengendalian sosial sekunder berperan penting dalam memperkuat dan menegakkan norma-norma sosial dalam masyarakat. Melalui intervensi lembaga-lembaga dan struktur sosial tersebut, masyarakat dapat memastikan bahwa perilaku individu tetap sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Dengan demikian, pengendalian sosial sekunder menjadi salah satu fondasi dalam menjaga keharmonisan dan stabilitas sosial di dalam masyarakat.

Pengendalian Sosial Positif: Mendorong Kepatuhan Terhadap Norma-Norma Sosial

Pengendalian sosial positif adalah strategi yang digunakan dalam suatu masyarakat untuk mendorong individu agar mematuhi norma-norma sosial dengan memberikan penguatan atau konsekuensi positif terhadap perilaku yang diinginkan. Jenis pengendalian ini bertujuan untuk memperkuat dan memperkukuh norma-norma positif dalam masyarakat. Dalam konteks pengendalian sosial positif, terdapat beberapa bentuk penguatan yang dapat diterapkan, antara lain:

Pujian dan Penghargaan: Pujian dan penghargaan diberikan kepada individu yang telah mematuhi norma-norma sosial atau telah melakukan tindakan yang dianggap positif oleh masyarakat. Bentuk penguatan ini dapat berupa ucapan terima kasih, penghargaan formal, atau pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan.

Reputasi Positif: Reputasi positif adalah hasil dari pengakuan masyarakat terhadap individu yang telah menunjukkan perilaku yang dihargai. Reputasi positif ini dapat meningkatkan status sosial individu dalam masyarakat dan menjadi motivasi bagi orang lain untuk mengikuti jejaknya.

Pemberian Penghargaan Materiil: Selain penghargaan verbal, pemberian penghargaan materiil seperti hadiah atau insentif juga dapat menjadi bentuk pengendalian sosial positif. Hal ini dapat memberikan dorongan ekstra bagi individu untuk terus mematuhi norma-norma sosial yang berlaku.

Mendukung Perilaku Pro-Sosial: Masyarakat dapat memperkuat norma-norma sosial dengan mendukung perilaku pro-sosial, seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, atau partisipasi dalam kegiatan amal. Dengan memberikan dukungan dan apresiasi terhadap perilaku-pro sosial, masyarakat secara tidak langsung memperkuat norma-norma tersebut.

Penerapan pengendalian sosial positif dapat meningkatkan kepatuhan terhadap norma-norma sosial tanpa harus mengandalkan ancaman atau hukuman. Selain itu, penggunaan penguatan positif juga dapat memperkuat hubungan antarindividu dalam masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan saling mendukung. Dengan demikian, pengendalian sosial positif menjadi salah satu strategi yang efektif dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan berbudaya.

Pengendalian Sosial Negatif: Sanksi Terhadap Pelanggaran Norma

Pengendalian sosial negatif adalah mekanisme yang digunakan dalam masyarakat untuk menegakkan norma-norma sosial dengan memberikan sanksi atau konsekuensi negatif terhadap individu yang melanggar norma tersebut. Jenis pengendalian ini bertujuan untuk mencegah individu melakukan perilaku yang tidak diinginkan atau merugikan bagi masyarakat. Dalam konteks pengendalian sosial negatif, terdapat beberapa bentuk sanksi yang dapat diterapkan, antara lain:

Hukuman: Hukuman adalah bentuk sanksi yang diberikan oleh lembaga hukum atau otoritas terkait terhadap individu yang melanggar norma-norma sosial. Hukuman ini bisa berupa denda, penjara, atau hukuman lainnya sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Penolakan Sosial: Penolakan sosial terjadi ketika individu yang melanggar norma-norma sosial dijauhi atau dihindari oleh anggota masyarakat lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan isolasi sosial dan penurunan status sosial bagi individu tersebut.

Pengucilan: Pengucilan adalah bentuk ekstrem dari penolakan sosial, di mana individu yang melanggar norma-norma sosial dikeluarkan atau diusir dari komunitas atau kelompok masyarakat tertentu. Pengucilan ini bertujuan untuk menjaga kesatuan dan keharmonisan dalam masyarakat dengan menyingkirkan individu yang dianggap mengganggu.

Stigma: Stigma adalah label negatif yang melekat pada individu yang melanggar norma-norma sosial. Stigma ini dapat mempengaruhi cara individu tersebut diperlakukan oleh masyarakat, bahkan setelah ia memperbaiki perilakunya.

Penerapan pengendalian sosial negatif tidak selalu bersifat merugikan, namun bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan keadilan dalam masyarakat. Meskipun demikian, penggunaan sanksi negatif haruslah dilakukan dengan bijak dan proporsional, serta harus memperhatikan hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Dengan demikian, pengendalian sosial negatif dapat menjadi instrumen yang efektif dalam memelihara tatanan sosial yang berkelanjutan dan harmonis.

Kesimpulan

Dengan memahami jenis-jenis pengendalian sosial dan implementasinya, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih teratur, harmonis, dan sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Melalui kombinasi pengendalian sosial formal dan informal, serta penerapan pengendalian positif dan negatif, masyarakat dapat membangun struktur sosial yang kokoh dan stabil untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Related Posts
Pengertian Gaya Berat
Pengertian Gaya berat

Pengertian Gaya berat adalah salah satu konsep mendasar dalam fisika yang mendominasi pengalaman sehari-hari kita. Ketika kita berbicara tentang "berat" Read more

Pengertian Feminisme dan Kebebasan Perempuan Indonesia
Pengertian Feminisme

Pengertian Feminisme - Feminisme adalah gerakan sosial dan politik yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Di Read more